Lokasi: Cipining – Bogor
Luas Bangunan : 2.880 m2
Tahun 2018
1. Filosofi Desain
“Pilar Peradaban Ilmu, Gerbang Menuju Kemuliaan”
Gedung ini dirancang untuk merepresentasikan visi STAIDA sebagai institusi yang melahirkan generasi intelektual Muslim yang unggul secara akademis dan berkarakter mulia.
– Dua Kubah Besar yang Simetris: Melambangkan keseimbangan antara dua fondasi utama pengetahuan Islam: ilmu syar’i (ilmu agama) dan ilmu aqli (ilmu umum/kontekstual). Kedua kubah ini menjadi simbol pusat pencerahan intelektual.
– Fasad Gerbang yang Masif: Menyimbolkan STAIDA sebagai “gerbang peradaban,” tempat mahasiswa menempuh proses transformasi menjadi sumber daya manusia yang siap membangun masyarakat.
View Belakang Gedung sekaligus Main Entrance
2. Konsep Arsitektur
a. Neo-Islamic Classic & Modern Fusion
Arsitektur gedung ini mengadopsi gaya Neo-Klasik Eropa yang gagah dan berwibawa, namun diinfus dengan elemen-elemen arsitektur Islam klasik yang rumit. Perpaduan ini menciptakan kesan kemegahan intelektual yang abadi.
– Kolom-Kolom Corinthian Tinggi: Menegaskan kesan akademis, profesional, dan formal, serta memberikan efek vertikal yang gagah dan stabil pada bangunan bertingkat ini.
– Ornamen Krawangan (Mashrabiya): Panel ukiran geometri Islam pada fasad pusat berfungsi sebagai elemen estetika sekaligus penegas identitas kampus religius.
b. Simetri yang Agung dan Berwibawa
Layout bangunan yang simetris sempurna mencerminkan keadilan, keteraturan, kedisiplinan, dan fokus yang menjadi pilar utama dalam dunia akademis dan lembaga tinggi Islam.
– Tata Letak Pusat: Gerbang masuk utama berada tepat di tengah, diapit oleh dua sayap bangunan yang identik, memberikan orientasi yang jelas dan impresi yang monumental bagi siapa pun yang mendekat.
c. Arsitektur Berbasis Fungsionalitas Tinggi
Desain ini mengoptimalkan fungsi gedung sebagai pusat pembelajaran bertingkat.
– Bukaaan Jendela yang Rapi: Pengulangan jendela kotak bergaya kolonial memastikan pencahayaan alami dan ventilasi silang yang merata di setiap ruang kelas dan area perkantoran, menciptakan lingkungan belajar yang sejuk dan hemat energi.
– Koridor Luas: Desain bangunan yang memanjang memungkinkan terciptanya koridor-koridor luas di setiap lantai, berfungsi sebagai ruang interaksi sosial antar mahasiswa dan dosen.
View Mata BUrungView Depan Gedung STAIDAPerspektif Tampak DepanPerspektif Tampak Depan
Lokasi : Kab. Sidoarjo
Luas Bangunan : 183 m2
Tahun 2018
1. Filosofi Desain
“Harmoni Kejujuran Material dan Keseimbangan Geometris”
Rumah ini dirancang dengan filosofi menciptakan ruang hidup yang menenangkan melalui dialog antar material yang kontras namun saling melengkapi.
– Atap Pelana Modern yang Asimetris (Asymmetrical Gable Roof): Tarikan atap miring yang tajam melambangkan kedinamisan hidup modern yang progresif, namun tetap fungsional dalam mengalirkan air hujan di iklim tropis.
– Tiga Elemen Fasad (Bata Ekspos, Batu Alam, Beton Putih): Menyimbolkan harmoni antara bumi (tanah liat bata & batu alam) dengan modernitas manusia (beton putih bersih).
Perspektif Tampak Depan
2. Konsep Arsitektur
a. Komposisi Fasad Kontemporer (Contemporary Composition)
Arsitektur rumah ini bermain dengan volume (maju-mundur bangunan) yang memberikan kedalaman visual (visual depth).
– Aksen Bidang Bata Merah Ekspos: Menjadi focal point di lantai atas yang memberikan kehangatan dan kesan industrial yang elegan.
– Kolom dan Dinding Batu Alam Abu-Abu: Memberikan tekstur kokoh, alami, dan membumi pada area lantai bawah.
– Elemen Kisi-Kisi Vertikal : Berfungsi ganda sebagai estetika fasad yang manis sekaligus sebagai peneduh dari sinar matahari langsung.
b. Tropis Fungsional (Functional Tropicalism)
Desain fasad tidak hanya mementingkan keindahan visual, tetapi juga sangat adaptif terhadap cuaca Indonesia.
– Overstek Atap dan Kanopi: Lindungan topi-topi beton di atas jendela dan teras depan melindungi dinding dari tampias hujan deras dan terik matahari langsung.
– Bukaan Jendela Tinggi: Memaksimalkan masuknya cahaya alami (natural daylighting) ke dalam ruangan tanpa membuat interior terasa panas.
c. Palet Warna Bumi yang Hangat (Warm Earth Tone Palette)
Kombinasi warna putih bersih pada bingkai utama (frame), merah bata yang berani, abu-abu batu alam yang netral, dan krem lembut menciptakan rumah yang terlihat modern, bersih, namun tetap terasa “ramah” dan mengundang.
Client : Yayasan Majlisu Riyasatil Ma’had
Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar
Lokasi : Ngabar Kab. Ponorogo Jawa Timur
Tahun : 2016
Ukuran Lantai Dasar : 13 x 40 m (3 lantai)
1. Filosofi Desain
“Kesucian Karakter, Keteguhan Iman”
Bangunan ini dirancang untuk merepresentasikan sebuah wadah pendidikan bagi santriwati yang menjunjung tinggi akhlakul karimah dan kejernihan ilmu.
– Fasad Lengkungan Runcing (Pointed Arches): Bentuk lengkungan yang mengerucut ke atas melambangkan arah ketaatan dan doa yang terus dipanjatkan vertikal kepada Allah SWT (Hablum Minallah).
– Simbolisme Warna Hijau Terang: Mewakili kehidupan, kedamaian, kesegaran berpikir, dan keteduhan spiritual yang menjadi ciri khas lingkungan pesantren Nusantara.
2. Konsep Arsitektur
a. Modern Neo-Islamic Architecture
Bangunan ini mengambil pakem estetika arsitektur Islam klasik namun dieksekusi dengan garis-garis geometris modern yang bersih dan tegas.
– Gubahan Pengulangan (Rhythm of Arches): Pengulangan modul lengkungan di sepanjang fasad memberikan kesan bangunan yang monumental, anggun, dan berwibawa.
– Ornamen Krawangan (Geometric Mashrabiya): Panel bermotif geometri Islam di kedua sayap gedung bertindak sebagai ventilasi udara alami sekaligus perisai privasi bagi santriwati (hijab arsitektural).
b. Privasi dan Kenyamanan Berasrama (Privacy & Safety)
Sebagai asrama putri, desain bangunan sangat memperhatikan batas-batas privasi internal.
– Koridor Terbuka Lebar (Deep Verandas): Koridor di setiap lantai ditarik agak menjorok ke dalam dari muka bangunan. Hal ini berfungsi ganda: menghalau tampias hujan tropis dan terik matahari, serta melindungi pandangan luar langsung ke dalam area kamar tidur santriwati.
– Kaligrafi pada Fasad Dalam: Penempatan kaligrafi kufi/tsuluts di dinding dalam koridor memberikan pengingat zikir harian yang melekat secara visual bagi para penghuni.
c. Fungsionalitas Tropis Hemat Energi
Ventilasi Silang (Cross Ventilation): Bukaan arch yang tinggi dan kisi-kisi vertikal putih di sudut-sudut bangunan memaksimalkan sirkulasi udara bebas, menjaga kelembapan ruangan tanpa bergantung penuh pada pendingin udara buatan.
Client : Bpk. Yayan
Luas Bangunan : 200 m2
Lokasi : Kota Madiun
Tahun : 2018
1. Konsep Desain: Modern Tropical Minimalist
Konsep ini menggabungkan kepraktisan minimalis dengan adaptasi iklim tropis Indonesia. Berikut adalah elemen-elemen kunci pembentuk konsepnya:
a. The Statement Screen (Partisi Laser Cutting)
– Fungsi Estetik: Menjadi focal point (pusat perhatian) bangunan yang mengimbangi fasad kotak yang kaku.
– Fungsi Praktis: Berperan sebagai secondary skin (kulit kedua) untuk menyaring sinar matahari berlebih dan menjaga privasi balkon tanpa menutup aliran udara.
b. Tekstur Alami & Material Earthy
– Penggunaan batu alam susun sirih pada dinding memberikan tekstur kasar yang membumi.
– Dipadukan dengan pagar kayu horizontal yang memberikan kesan ramah dan hangat pada area masuk (entrance).
c. Komposisi Geometris yang Dinamis
– Bingkai putih besar membingkai lantai dua secara asimetris, memberikan kesan arsitektur yang modern, bersih, dan berani.
– Pagar balkon putih vertikal memberikan kesan ringan dan transparan.
Kondisi awal rumahDesain Tampak Depan
Bangunan 2 Lantai dengan ukuran 7,9 x 15,8 m ini awalnya adalah sebuah ruko yang berfungsi sebagai kantor yayasan. Dikarekanan adanya kebutuhan bagi keluarga akan sebuah rumah tinggal, akhirnya klien meminta bangunan ini disulap menjadi rumah dengan tanpa banyak membongkar struktur dan bangunannya.
Lokasi rumah ini terletak di tengah – tengah sebuah perumahan, berada ditepi jalan arteri yang cukup ramai. Klien menginginkan rumah berkonsep modern modern tapi ada kesan unik. Untuk menjawab tantangan tersebut, langkah awal adalah menutup atap ruko dengan sebuah bentuk tertentu, memanfaatkan dak beton dengan struktur yang ada.
Permainan material mulai dari cat, batu alam, pagar minimalis, pagar kayu, hingga besi laser cutting diterapkan disini. Pola laser cutting memiliki pola unik yang menjadikan focal point tersendiri. Lantai 2 dibingkai dengan bentuk kotak segi empat. Sedangkan untuk lantai 1 tidak mengubah banyak, hanya saja bagian gerbang dibuatkan sebuah portal putih untuk memberikan kesan minimalis sekaligus sebagai gerbang. Bagian belakang rumah tidak mengalami perubahan signifikan, hanya pengalihan ruang makan dan dapur yang ditempatkan di taman indoor. Taman ini sebagai pencahayaan dan sirkulasi udara serta untuk melepas penat.
Client : Ibu Dyah
Luas bangunan : 145 m2
Lokasi : Kab. Madiun
Tahun : 2017
View Mata Burung
Rumah ini dibangun di atas dengan lahan dengan ukuran terbatas yakni 11,2 x 12,9 m. Berada di perumahan yang padat, lahan ini dikelilingi oleh bangunan tetangga. Tantangannya bagaimana membuat denah dengan jumlah ruang yang cukup banyak namun semua ruang harus mendapatkan sirkulasi dan cahaya matahari. Tantangan kedua yaitu dengan ruang yang banyak namun masih terasa lega.
Dengan pertimbangan diatas, disini kami membuat sebuah ruangan tengah yang menyambung tanpa sekat menjadi titik simpul semua ruang, dimana terdapat taman indoor di 3 penjuru arah mata angin. Lahan yang sangat terbatas mendorong untuk membuat sebuah portal tepat diatas GSB yang berfungsi sebagai tampak depan sekaligus menjadi pagar. Penggunaan atap limas adalah sebagai jawaban dari konfigurasi denah dan taman indoor sekaligus menjadikan mahkota yang serasi dengan konsepnya yakni gaya modern minimalis.
Client : Bpk. Adek
Luas Bangunan : 116 m2
Lokasi : Perumahan Kotabaru Residence Jambi
Tahun : 2017
1. Filosofi Bangunan: The Grand Balance (Keseimbangan yang Agung)
Filosofi desain ini adalah tentang mencapai Harmoni melalui Simetri, Kekuatan, dan Sentuhan Kemewahan Abadi. Bangunan ini tidak berusaha menjadi yang paling futuristik, tetapi menjadi yang paling mapan, stabil, dan berkelas.
– Fasad Simetris (hampir): Menunjukkan keteraturan, stabilitas hidup, dan prinsip yang kuat.
– Kolom-kolom Besar dan Profil Atap: Mewakili ketangguhan, perlindungan, dan kewibawaan penghuninya.
– Ornamen Tempa (Wrought Iron): Melambangkan kehalusan rasa, apresiasi terhadap seni klasik, dan warisan nilai
(legacy).
– Tekstur Batu Alam: Melambangkan kekokohan pada bangunan tersebut
2. Konsep Desain: Classic-Modern Prestige (Prestise Klasik Modern)
Desain ini dengan cerdas memadukan elemen arsitektur klasik yang megah dengan kepraktisan hidup modern.
a. Perpaduan Gaya: Klasik vs. Modern
– Klasik: Terlihat jelas pada profil lisplang atap yang tebal, pagar tempa dengan ukiran lengkung, dan pilar-pilar tebal yang membingkai area tertentu.
– Modern: Terlihat pada penggunaan jendela kaca panjang (ribbon window) di sisi kiri, garis-garis pagar horizontal pada balkon, dan penggunaan material batu alam modern.
b. Hierarki Material dan Warna (Monokromatik Mewah)
– Penggunaan palet warna monokrom (hitam, putih, abu-abu) memberikan kesan mewah, bersih, dan tak lekang oleh waktu.
– Batu Alam Hitam pada area carport memberikan kesan kokoh dan maskulin.
– Batu Alam Krem/Cokelat di fasad atas memberikan sentuhan kehangatan yang kontras.
Tampak Depan Siang Hari
c. Fungsionalitas yang Mewah (Premium Functionality)
– Carport Luas: Desain memastikan fungsi parkir (mobil mewah seperti Range Rover dan motor besar) diakomodasi dengan elegan di bawah naungan struktur yang solid.
– Privasi yang Terbuka: Pagar tempa memberikan batas yang jelas, namun tetap memberikan visibilitas yang indah (see-through), menciptakan keterbukaan tanpa mengorbankan privasi penuh.
d. Detail yang Bercerita (Storytelling in Detail)
Elemen pagar tempa di balkon lantai dua berinteraksi harmonis dengan pagar utama di lantai satu, menciptakan bahasa desain yang konsisten.
Lokasi : PP Walisongo Ngabar Ponorogo
Ukuran : 6 x 23 m (138 m2)
Tahun : 2017
Bangunan Perpustakaan terletak di lantai 2 tempat wudhu, samping masjidMenggunakan gaya mediteran, menyesuaikan desain masjidDesain InteriorDesain InteriorDesain Interior
Client : Bpk. Alvin
Lokasi : Ponorogo
Luas Bangunan : 175 m2
Tahun : 2017
1. Filosofi
Filosofi utama dari desain ini adalah keseimbangan hidup yang menghormati akar budaya leluhur sembari menyambut modernitas. Bangunan ini tidak membuang identitas Jawa, melainkan merayakannya dalam konteks masa kini.
– Atap Joglo/Limasan Kayu: Melambangkan status, kehormatan, ketenangan, dan keterbukaan masyarakat Jawa dalam menerima tamu (keramahtamahan).
– Warna Merah Menyala: Melambangkan keberanian (kendel), semangat hidup yang dinamis, dan energi positif yang mengalir dalam hunian.
– Batu Alam : Representasi dualitas harmoni (rwa bhineda atau keseimbangan alam) yang stabil, kokoh, dan tenang.
Tampak Depan
2. Konsep Desain: Contemporary Ethnic Fusion
Konsep ini meleburkan dua massa bangunan yang kontras menjadi satu kesatuan visual yang estetis dan fungsional.
a. Dekonstruksi Massa Bangunan (Dualisme Desain)
– Massa Kiri (Etnik-Tradisional): Area gazebo/paviliun panggung dengan struktur kayu dan atap Joglo/Limasan yang
megah. Sangat cocok untuk area komunal, bersantai, atau ruang keluarga terbuka.
– Massa Kanan (Modern-Minimalis): Bangunan utama berbentuk kubisme dengan garis-garis tegas, dinding bergaris horizontal, dan jendela berbingkai tebal yang fungsional.
b. Aksen Geometris Dinamis
– Penggunaan pilar vertikal berwarna merah terang memecah kebosanan fasad monokrom. Ini berfungsi sebagai penegas visual (visual marker) yang membuat fasad terlihat hidup.
– Bingkai batu alam hitam pada area pintu masuk (entrance portico) memberikan kesan masif, kokoh, dan berwibawa.
c. Materialitas dan Tekstur yang Kaya
– Kayu Alami: Menghadirkan kesan hangat, tropis, dan ramah lingkungan.
– Batu Alam Bertekstur: Memberikan kesan modern urban yang maskulin.
– Lantai Paving Blok Terbuka: Area halaman luas yang mencerminkan konsep pekarangan rumah Jawa yang lapang untuk sirkulasi udara dan interaksi sosial.
Tampak Samping
Rumah ini tadinya adalah rumah peninggalan kakek. Sebuah rumah kuno dari kayu yang rencananya akan direnovasi total. Posisi rumah joglo dan rumah sebelahnya memiliki kontur tanah yang berbeda (split level), lantai 1 dengan yang lain saling bertingkat. Bagian joglo dibuat dengan memanfaatkan sisa kayu jati dari orang tua. Membangun struktur joglo di lantai 2 agak sulit dikarenakan beban kayu yang berat serta ruangan dibawahnya memiliki bentangan ruang 8 m. Pada lantai 1 terdapat garasi, taman, ruang santai dan perpustakaan sedangkan lantai atasnya (joglo) yakni ruang keluarga dan kamar tidur.
Tampak DepanView Mata Burung
Ruangan ini memilki konsep taman-taman indoor serta bukaan jendela yang lebar untuk meningkatkan kenyamanan penghuni terhadap sirkulasi udara. Ruang perpustakaan, ruang garasi dan ruang santai tidak terdapat sekat sehingga menjadi ruangan yang mengalir. Joglo di lantai 2 dapat diakses dari luar untuk memberi privasi bagi penghuninya. Joglo yang ditempatkan di lantai 2 memberi kesan berkelas yang mengangkat status penghuninya di masyarakat.
Client : Yayasan Majlisu Riyasatil Ma’had
Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar
Lokasi : Ngabar Kab. Ponorogo Jawa Timur
Tahun : 2016
Ukuran Dasar : 18 x 45 m
Luas Bangunan Masjid : 1.279 m2
Luas Area Sholat : 1.015 m2
Kapasitas Jemaah : 1.400 jemaah
Tinggi Masjid hingga Kubah : 18 m
Diameter Kubah Utama : 14 m
Diameter Kubah Anak : 5 m
Konsep Desain Masjid merupakan Perpaduan antara Modern dan Timur TengahSirip-sirip lengkung pada samping masjid yang berfungsi untuk menahan tampias air hujan dan menyaring sinar matahari
LOKASI, LAMBANG & SEJARAH
Pondok Pesantren Wali Songo ini terletak di desa Ngabar, kecamatan Siman, kabupaten Ponorogo provinsi Jawa Timur, pada kilometer tujuh arah selatan pusat kabupaten Ponorogo. Pemilihan Wali Songo sebagai nama pondok ini bukan tanpa alasan. Para wali dianggap berjasa besar dalam penyebaran agama Islam khusus di pulau Jawa. Perjuangan para wali ini sangat berkesan di hati pendiri Pondok Ngabar hingga memberi nama Wali Songo. Nama itu juga didorong dua hal. Pertama, keinginan mengingat jasa-jasa para wali dalam bidang dakwah Islam di Indonesia. Kedua, keinginan mewarisi sekaligus meneruskan semangat dan usaha para wali dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam. Selain itu, kebetulan santri pertama yang datang ke pesantren ini ada sembilan orang dari berbagai daerah di Indonesia.
Lambang PP Walisongo NgabarDesain Masjid dan Plaza Ngabar
KONSEP & FILOSOFI DESAIN
Masjid ini memiliki konsep arsitektur Mediteran (Gaya Timur Tengah) dengan sedikit ada sentuhan modern. Bentuk simetris tengah dengan profil dan lengkungan, dengan dominasi kerawang motif Islam, menjadi ciri yang khas. Penggunaan material terbaru (tren), mulai dari luar hingga dalam sebagai respons dari perkembangan zaman, mewarisi ciri dakwah Wali Songo yang senantiasa menyesuaikan diri dengan kultur dan budaya masyarakat pada zamannya.
Untuk menguatkan konsep mediteran, warna masjid dibuat dominan krem muda, kuning, coklat, dengan aksentuasi emas di beberapa tempat, termasuk warna kubah. Bagian depan tengah masjid tertera lafadz Allah dengan ukuran cukup besar dengan cahaya yang memancar di sekelilingnya. Lafadz ini akan terlihat jelas di malam hari. Lafadz Allah sebagai focus point masjid ini sebagai perlambang bahwa segala niat, gerak, dan tujuan adalah semata-mata karena Allah dan untuk Allah.
Melalui permainan pencahayaan, Masjid ini lebih hidup di waktu Shubuh, Petang dan Malam hari karena pada saat-saat itulah banyak diadakan kegiatan-kegiatan pondok, baik dilakukan di dalam masjid maupun di pelataran depan masjid.
Suasana masjid akan lebih dramastis pada malam hari, dikarenakan malam hari merupakan puncak kegiatan santri.
KONSEP WALISONGO
Ukuran dasar masjid adalah sekitar 18 x 45 m. Angka 18 m (lebar masjid) jika dijumlah (1 + 8 = 9). Demikian juga panjang 45 m (4 + 5 = 9 m). Ketinggian Lantai 1 ke Lantai 2 adalah 4,5 m. Ketinggian Lantai 2 ke Lantai atap juga 4,5 m. Jika dijumlahkan 4,5 + 4,5 = 9 m. Demikian juga tinggi kubah berikut leher kubah sekitar 9 m. Jadi tinggi total masjid dari lantai dasar masjid adalah 9 + 9 = 18 m. Jika angka 1 dan 8 dijumlah akan ketemu angka 9. Bagian depan masjid tedapat portal lengkung vertikal, mirip huruf V terbalik yang berjumlah 8. Ditambah dengan portal tengah masjid, maka jumlahnya adalah 9.
Tampak Depan Masjid. Ke-9 Profil yang membingkai kerawang ataupun kaca mencerminkan makna Walisongo
Lampu Gantung di bawah kubah memiliki 2 tingkat. Masing-masing tingkatan memiliki lengan lampu. Tingkat bagian atas memiliki 9 lengan dan lampu, sedangkan tingkat bawah memiliki 18 lengan dan lampu (1 dan 8 jika dijumlahkan 9)
Lampu Gantung bawah kubah yang melambangkan walisongo
KONSEP INKLUSIF
Pesantren Walisongo Ngabar adalah lembaga pendidikan yang mengambil konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya bahwa Islam diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi semua manusia dan seluruh alam semesta. Islam tidak hanya untuk golongan tertentu saja. Konsep dakwah inklusif inilah yang dibawa oleh Wali Songo pada zamannya. Hal ini tercermin pada konsep masjid terbuka tanpa pintu dan jendela. Konsep masjid terbuka seperti ini masuk akal karena konstektual dengan lokasinya yang berada di tengah pesantren, sehingga keamanan terjamin dan debu sangat minim karena jauh dari jalan raya.
Foto seorang jemaah di lantai 2 masjid dengan latar belang kerawang GRC sebagai dinding, sekaligus jendela masjid ini.
ENVIRONMENTALLY FRIENDLY BUILDING
Bangunan masjid ini menggunakan konsep bangunan ramah lingkungan karena mengurangi pemakaian AC (penyebab berkurangnya lapisan ozon), juga mengurangi pemakaian lampu pada siang hari. Konsep dinding kerawang GRC yang berlubang, memungkinkan terjadinya ventilasi silang (cross ventilation) dan sinar alami yang masuk lembut tersaring sehingga berpengaruh besar terhadap kenyamanan jemaah dan pengguna di dalamnya.
KONSEP IMAM, SAF & MIHRAB
Foto Masjid Walisongo Ngabar pertama kali digunakan untuk sholat Jum’at pada tanggal 18 Mei 2018
IMAM
Tidak seperti lazimnya, masjid ini tidak menyediakan ruangan Imam secara khusus. Namun kedudukan Imam ikut menyatu bersama ma’mum. Ada 3 alasan mengapa desain dibuat demikian. Yang pertama, Imam akan mudah mengatur saf ma’mum karena semuanya terlihat bahkan yang di pojok/ ujung, Yang kedua, khotib terlihat dari semua arah, bahkan oleh ma’mum di pojok depan. Yang ketiga adalah makna Islam bahwa Allah tidak memandang seseorang dikarenakan kedudukan dan jabatannya. Semua manusia di hadapan Allah sama, yang membedakan hanya ketakwaannya.
Saf pertama dan kedua masjid.
SHAF
Shaf pertama, kedua dan ketiga musti dibuat paling nyaman (pencahayaan & sirkulasi udara), paling lebar (jarak dengan dinding depannya), paling empuk (karpetnya), paling enak suara sound sistemnya, juga paling banyak fasilitasnya (ada ruang lebih di depan untuk menaruh barang). Hal ini karena Shaf pertama adalah shaf yang paling utama kedudukannya, baik di mata manusia, lebih lagi di mata Allah.
“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari 580)
Desain Interior Mihrab
MIHRAB
Mihrab merupakan salah satu terpenting dari sebuah masjid. Desain Mihrab masjid ini dilambangkan dengan Ka’bah, yang juga merupakan lambang/ logo dari Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Background mihrab berwarna gelap (coklat tua) melambangkan malam hari. Lalu garis-garis vertikal acak menggambarkan hujan. Ka’bah menggambarkan kiblat ibadah, sedangkan cahaya yang mengelilinginya menggambarkan nur hidayah Allah. Lafadz Allah dan Muhammad menggambarkan syahadat, juga sebagai ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Di kanan kiri mihrab terdapat kerawang GRC yang berlafadz Assalamu’alaikum warohmatullahi barokatuh (Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian)
Jika dijabarkan seperti berikut:
“Islam turun pada zaman kegelapan (jahiliyah). Dengan rahmat dan kasih sayang-Nya lah (digambarkan hujan), kemudian manusia mendapatkan nur hidayah (cahaya sekeliling ka’bah) yang akhirnya mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya iman. Iman tersebut kemudian yang membimbing manusia untuk beribadat kepada Alah (lambang ka’bah), juga menebar kasih sayang dan manfaat kepada sesama manusia (lafadz Assalamu’alaikum). Dengan demikian, manusia akan hidup mulia baik di dunia maupun di akhirat dengan naungan kebesaran dan kemuliaan Allah (dome berwarna emas di atas mihrab).”
Dome kubah berwarna emas yang menggambarkan naungan kebesaran dan kemuliaan AllahProgress 45 % Pembangunan Masjid NgabarTempat Wudhu Masjid Walisongo Ngabar. Langit-langit yang menggambarkan dinamika pendidikan dan semangat baru dalam perubahan menuju yang lebih baikLantai 2 MasjidMasjid saat ada acara Syukuran Peresmian PertamaSuasana Depan Masjid saat ShubuhSuasana malam hariView dari belakang masjidAyat kursi di leher kubah. Ayat-ayat yang menerangkan kebesaran Allah.
MULTI DESAIN ARSITEK 2016 – 0811-3057-880
Tags : desain masjid, desain pesantren, arsitektur masjid, arsitektur pesantren, masjid pesantren, pesantren ponorogo, pesantren walisongo ngabar, konsep pesantren, konsep desain masjid, tampak depan masjid, arsitek madiun, arsitek ponorogo, arsitek ngawi, arsitek magetan, arsitek solo, arsitek malang, arsitek surabaya, mosque design, islamic boarding school, mosque in ponorogo, indonesian architect